Jumat, 02 Januari 2015

Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah Silaturahmi ke LAM Riau


Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar memberikan cendera mata kepada Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliya H Buyung Arifin disaksikan Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy, di Balai Adat Melayu Riau, Kamis (01/01/2014).

PEKANBARU-Sejumlah  pimpinan dan sekitar 160 jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, melakukan kunjungan silaturahmi ke pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau), Kamis (01/01/2015).

Rombongan jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliya ini yang dipimpin langsung ketuanya H Buyung Arifin didampingi Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat, Sumatera Utara Drs. H. Zainal Arifin Aka, M.Si, M.Pd. Pertemuan silaturahmi yang melibatkan tiga provinsi di Sumatera ini dijembatani oleh tokoh muda Riau yang juga pengurus LAM Riau Bidang Organisasi Kemasyarakatan Khairuddin Al Young Riau.
Kedatangan jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah di Balai Adat Melayu Riau diterima langsung oleh Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Umum DPH Al Azhar, Ketua MKA Drs. HR. Marjohan Yusuf, Anggota MKA. Drs. H. Ali Noer, Lc, Ketua DPH Drs. H. Tengku Lukman Jaafar, Ketua Bidang Agama LAM Riau Tgh. Drs. H. Syafruddin Saleh Sei. Gergaji dan sejumlah pengurus LAM Riau lainnya dan menyambutnya dengan suka cita.
Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat Drs. H. Zainal Arifin, M. Si  mengatakan merasa bahagia bisa berkunjung dan bertemu dengan para tokoh adat Melayu Riau.
Zainal pada kesempatan tersebut sedikit memaparkan sejarah Aceh Tamiang, yang dulunya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Langkat. Sementara Kerajaan Langkat, pernah takluk kepada Kerajaan Siak.
Dia juga memaparkan beberapa hal yang telah dilakukan dalam mempertahankan adat dan budaya Melayu Langkat seperti dengan menulis buku-buku yang berkaitan dengan adat dan budaya Melayu. “Saya sendiri sudah menulis sekitar 18 buku yang berkaitan dengan adat dab budaya Melayu Langkat,” kata budayawan Melayu Langkat..
Selain itu, dia bersama sejumlah tokoh Langkat lainnya telah mendirikan Yayasan Warisan Melayu Langkat dalam upaya melestarikan adat dan budaya Melayu di Langkat.
Menurut Zainal, Langkat merupakan negeri Melayu, sayangnya orang Melayu belum menjadi tuan di negeri sendiri. “Kami ingin mencontoh LAM Riau karena mampu menjadikan anak Melayu menjadi tuan di negerinya sendiri,” kata Zainal.
Ketua Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah, Kabupaten Aceh Tamiang H Buyung Arifin mengatakan sudah lamanya dirinya berkeinginan  untuk berkunjung ke LAM Riau.
“Saya pernah menjadi karyawan Pertamina dan bertugas di Pekanbaru. Dari Hotel Aryaduta saya selalu melihat ke arah Balai Adat Melayu Riau ini,” kata Buyung.
Dia mengatakan Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah yang dipimpinnya telah banyak melakukan kegiatan di Aceh Tamiang seperti menggelar majelis zikir sampai di seluruh kabupaten di Aceh Tamiang. “Selain itu, kami juga melakukan kunjungan ke luar Aceh Tamiang seperti ke Jakarta, Singapura, termasuk ke Siak dan Pekanbaru ini,” kata Buyung.
Ketua Bidang Agama DPH LAM Riau Syafruddin Saleh Sei. Gergaji mengatakan hubungan sejarah sudah sejak lama terbina antara Riau terutama Siak dengan Aceh Tamiang di Aceh dan Langkat di Sumatera Utara. “Apalagi hubungan sebagai sesama muslim yang perlu lebih dipererat kembali,” kata Syafruddin.
Ketua DPH LAM Riau pada kesempatan tersebut memaparkan sejarah singkat berdirinya LAM Riau 44 tahun silam tepatnya pada 6 Juni 1970 pada masa Gubernur Riau dijabat anak jati Riau Arifin Achmad.
Salah satu upaya yang dilakukan LAM Riau adalah untuk membangkitkan ‘batang terendam’ adat dan budaya Melayu yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Kami berupaya bagaimana ‘batang terendam’ yang sudah bangkit itu bisa dimanfaatkan bagi kemajuan dan kemashalatan masyarakat khususnya masyarakat  Melayu di Riau ini,” kata Al Azhar.
Al Azhar juga menjelaskan LAM Riau yang bersifat konfederasi dimana LAM Riau bertugas mengkoordinasikan LAM Riau yang ada di kabupaten kota. “LAM Riau bersifat konfederasi karena praktik adat di kabupaten/kota di Riau tidak homogen,” jelasnya.
Menurut budayawan Riau ini, ada empat sungai besar di Riau yaitu Sungai Indragiri, Sungai Kampar, Sungai Rokan, dan Sungai Siak dimana masing-masing daerah memiliki adat dan tradisi yang bervariasi.
Namun demikian, meskipun masing-masing kerajaan punya adat resamnya sendiri-sendiri ada satu hakikat yang sama yaitu beragama Islam yang terkenal dengan falsafah adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah. (r)