Rombongan
jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliya ini yang dipimpin langsung ketuanya H
Buyung Arifin didampingi Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat, Sumatera
Utara Drs. H. Zainal Arifin Aka, M.Si, M.Pd. Pertemuan silaturahmi yang
melibatkan tiga provinsi di Sumatera ini dijembatani oleh tokoh muda Riau yang
juga pengurus LAM Riau Bidang Organisasi Kemasyarakatan Khairuddin Al Young
Riau.
Kedatangan
jemaah
Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah di Balai Adat Melayu Riau diterima
langsung oleh Ketua Umum
Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Umum DPH Al Azhar,
Ketua MKA Drs. HR. Marjohan Yusuf, Anggota MKA. Drs. H. Ali Noer, Lc, Ketua DPH
Drs. H. Tengku Lukman Jaafar, Ketua Bidang Agama LAM Riau Tgh. Drs. H.
Syafruddin Saleh Sei. Gergaji dan sejumlah pengurus LAM Riau lainnya dan
menyambutnya dengan suka cita.
Ketua
Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat Drs. H. Zainal Arifin, M. Si mengatakan merasa bahagia bisa berkunjung dan
bertemu dengan para tokoh adat Melayu Riau.
Zainal
pada kesempatan tersebut sedikit memaparkan sejarah Aceh Tamiang, yang dulunya
pernah menjadi bagian dari Kerajaan Langkat. Sementara Kerajaan Langkat, pernah
takluk kepada Kerajaan Siak.
Selain
itu, dia bersama sejumlah tokoh Langkat lainnya telah mendirikan Yayasan
Warisan Melayu Langkat dalam upaya melestarikan adat dan budaya Melayu di
Langkat.
Menurut
Zainal, Langkat merupakan negeri Melayu, sayangnya orang Melayu belum menjadi
tuan di negeri sendiri. “Kami ingin mencontoh LAM Riau karena mampu menjadikan
anak Melayu menjadi tuan di negerinya sendiri,” kata Zainal.
Ketua Majelis
Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah, Kabupaten Aceh Tamiang H Buyung Arifin mengatakan
sudah lamanya dirinya berkeinginan untuk
berkunjung ke LAM Riau.
“Saya pernah
menjadi karyawan Pertamina dan bertugas di Pekanbaru. Dari Hotel Aryaduta saya
selalu melihat ke arah Balai Adat Melayu Riau ini,” kata Buyung.
Dia
mengatakan Majelis
Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah yang dipimpinnya telah banyak melakukan kegiatan di
Aceh Tamiang seperti menggelar majelis zikir sampai di seluruh kabupaten di
Aceh Tamiang. “Selain itu, kami juga melakukan kunjungan ke luar Aceh Tamiang
seperti ke Jakarta, Singapura, termasuk ke Siak dan Pekanbaru ini,” kata
Buyung.
Ketua
Bidang Agama DPH LAM Riau Syafruddin Saleh Sei. Gergaji mengatakan hubungan sejarah
sudah sejak lama terbina antara Riau terutama Siak dengan Aceh Tamiang di Aceh
dan Langkat di Sumatera Utara. “Apalagi hubungan sebagai sesama muslim yang
perlu lebih dipererat kembali,” kata Syafruddin.
Salah
satu upaya yang dilakukan LAM Riau adalah untuk membangkitkan ‘batang terendam’
adat dan budaya Melayu yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Kami
berupaya bagaimana ‘batang terendam’ yang sudah bangkit itu bisa dimanfaatkan bagi
kemajuan dan kemashalatan masyarakat khususnya masyarakat Melayu di Riau ini,” kata Al Azhar.
Al
Azhar juga menjelaskan LAM Riau yang bersifat konfederasi dimana LAM Riau bertugas
mengkoordinasikan LAM Riau yang ada di kabupaten kota. “LAM Riau bersifat
konfederasi karena praktik adat di kabupaten/kota di Riau tidak homogen,”
jelasnya.
Menurut
budayawan Riau ini, ada empat sungai besar di Riau yaitu Sungai Indragiri,
Sungai Kampar, Sungai Rokan, dan Sungai Siak dimana masing-masing daerah
memiliki adat dan tradisi yang bervariasi.
Namun
demikian, meskipun masing-masing kerajaan punya adat resamnya sendiri-sendiri
ada satu hakikat yang sama yaitu beragama Islam yang terkenal dengan falsafah adat bersendikan syarak, dan syarak
bersendikan kitabullah. (r)



