Pekanbaru, 21-24 Desember 2014
Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi
Balai Adat Melayu Riau, di Jalan Diponegoro No. 39 Pekanbaru, Riau, Indonesia.
Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar bersama penerima Anugerah Budaya DMDI lainnya, di Hotel Hatten, Melaka, 23 Oktober 2014.
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adyaksa Dault saat berkunjung ke LAM Riau, Kamis, 8 Mei 2014
Ketua Umum LAM Riau H Tenas Effendy memberikan cendera mata kepada Ketua DPRD Kepri Ir. H. Nur Syafriadi, M.Si saat berkunjung ke LAM Riau, 28 April-2014
Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy sebagai pembicara utama pada Conference on Islamic Business, Art Culture and Communication (ICIBACC 2014), Melaka, 26 Agus 2014.

Jumat, 25 Mei 2012

Kata Sapaan Dalam Kekerabatan Melayu

KATA SAPAAN DALAM KEKERABATAN MELAYU
Oleh: Mosthamir Thalib

BAHASA Melayu kita sangatlah kaya. Begitu pula tutur sapanya. Santun dan terstruktur. Untuk menyapa saudara dari orang tua kita pun ada aturannya. Ada kata sapaan kekerabatannya.
Dalam sebuah “Rumah Tangga Melayu”, Keluarga itu terdiri dari dari 3 JENIS KELUARGA. Yaitu, (1) Keluarga besar, (2) Keluarga Menengah, dan (3) Keluarga Kecil.

1. Dalam keluarga KECIL punya anak satu sampai tiga orang. “Pak Sedare-nye” fanak-anak mungkin Cume ade PAK UNGGAL DAN MAK UNGGAL atau Pak Cik dan Mak Cik.

2. Dalam keluarga MENENGAH anak tiga sampai lima orang. ‘Pak sedare-nye’ anak-anak ade “Pak Long, Pak Andak, Pak Ngah, Pak Cik dan Pak Usu”.

3. Dan, dalam keluarga BESAR Melayu punya anak lima sampai sepuluh orang, “Pak Sedare-nye” anak-anak sampai sembilan orang, yaitu terdiri dari :

Pak Long dan Mak Long,
Pak Anjang dan Mak Anjang,
Pak Andak dan Mak Andak,
Pak Ngah dan Mak Ngah
Pak Itam dan Mak Itam
Pak Uteh dan Mak Uteh
Pak Cik dan Mak Cik
Pak Ude dan Mak Ude
Pak Alang dan Mak Alang
Pak Usu dan Mak Usu
Pak Unggal dan Mak Unggal

Dalam kesempatan ini, kami mengajak kite semue, marilah kite menjage adat budaye kite yang tertib dan teratur ini. Ini juga sejalan dengan: Visi Riau 2020, yaitu menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara.
Marilah kite melestarikannye mulai dari keluarga kite masing-masing. Dengan ini, insyaallah, jati diri kita semakin jelas dan kuat, serta berkesan CERGAS DAN CAMPIN.

SYAIR KEKERABATAN MELAYU

Kepada Pak Long dan Mak Long
Saudara ayah ibu yang paling sulong
Berkain gumbang kemban digulong
Merekalah tempat minta tolong

Saudara ayah badannya panjang
Disapa Pak Anjang dan Mak Anjang
Kalau kurus ditiup angin melayang-layang
Kalau gemuk boleh dijadikan tiang

Kepada Mak Andak dan Pak Andak
Saudara ayah ibu yang paling pandak
Kepada mereka janganlah berlagak
Ke situ mengadu bila dah sesak

Saudara ayah ibu yang tengah
Disapa Pak Ngah dan Mak Ngah
Bila suami-istri terus bertelagah
Mintalah mereka jadi penengah

Saudara ayah ibu berkulit hitam
Disapa Mak Itam dan Pak Itam
Berdiri gagah bersila sanggam
Tak berduit, tempat meminjam

Pak Uteh dan Mak Uteh
Saudara ayah ibu berkulit puteh
Kadang berperangai suka meleteh
Bibirnya merah macam bersireh

Pak Cik atau Mak Cik
Saudara ibu ayah yang paling kecik
Pandai sekali kalau mengusik
Banyak akal sangatlah cerdik

Ada Pak Ude dan Mak Ude
Suka bergaya serupe orang mude
Ke mane-mane selalu gembire
Kadang pasangan tak cukup due

Saudara ayah ibu yang alang kepalang
Disapa Pak Alang atau Mak Alang
Suke berbuat yang alang-alang
Orang lain jadi tunggang langgang

Ade Pak Usu dan Mak Usu
Saudara ayah ibu yang paling bungsu
Perangainya aneh kadang lucu
Tapi boleh jadi juga tempat mengadu.

Ade salam dari Igal
Dari Pak Unggal dan Mak Unggal
Sepupu kite yang lahir tunggal
Dia mohon maaf tak dapat datang be-halal bi halal….

Sekali lagi, marilah kitA melestarikan budaya kita.

Bapak/Ibu/Encik dan Puan. serta
Pak Long dan Mak Long,
Pak Anjang dan Mak Anjang,
Pak Andak dan Mak Andak,
Pak Ngah dan Mak Ngah
Pak Itam dan Mak Itam
Pak Uteh dan Mak Uteh
Pak Cik dan Mak Cik
Pak Ude dan Mak Ude
Pak Alang dan Mak Alang
Pak Usu dan Mak Usu
Pak Unggal dan Mak Unggal

Budaya yang juga telah mewariskan tiga bahasa resmi negara, Indonesia, Malaysia, Brunei, serta lagu Kebangsaan Singapura. “Majulah Singapura”.



Mosthamir Thalib/Laman Wak Atan.
Anggota Bidang Pendataan/Pendokumentasian/Pengajian dan Pengembangan
Nilai-nilai Adat dan Budaya Melayu Riau LAM RIAU.

sumber img: evitindonesia.blogspot.com

Pintar Berbalas Pantun

Pintar Berbalas Pantun
Oleh: Mosthamir Thalib

ACUAN DASAR

I. PANTUN

1. Pantun Melayu

Hampir semua wilayah di nusantara ini mempunya seni budaya pantun. Begitu juga dengan Melayu di Riau. Pantun merupakan warisan sastra lama. Seni ini termasuk dalam kelompok puisi yang dikenal dengan puisi lama.

Puisi lama ini terdiri dari mantra, syair, pantun, dan puisi. Khusus pantun terdiri pula beberapa jenis bila dilihat dari segi bentuk dan isi.

Dari segi bentuk ada pantun terdiri dari empat baris dalam satu bait, sebagaimana pantun yang umum kita kenal, yang banyak diperdengarkan atau ditampilkan orang.

Dua baris pertama merupakan sampirannya, dua baris berikutnya merupakan isi atau kandungan maksud dari sebuah pantun.

Ada juga pantun kilat, yaitu terdiri dari dua baris saja. Baris pertama merupakan sampirannya. Baris kedua ini merupakan isi atau kandungan maksudnya. Pantun seperti ini sekarang kita lihat selalu ditampilkan dalam Film Upin dan Ipin.

Contohnya:

Dua tiga kucing berlari
Memang hebat si Jarjit ini.


2. Sifat dan Ciri-ciri Pantun

Sifat paling mendasar dari sebuah pantun terdiri dari sampiran dan isi kandungan maksud yang disampaikannya. Sampiran merupakan sebuah kalimat terdiri dari empat sampai lima atau enam kata. Huruf terakhir dari kata terakhir dari baris sampiran sama bunyinya dengan huruf terakhir dari kata terakhir dari baris isinya. Bunyi yang sama tersebut terasa berpasangan-pasangan.Baris pertama berpasangan bunyi dengan baris ketiga. Baris kedua berpasangan bunyi dengan baris keempat.

Pantun singkat yang terdiri dari dua baris, bunyi huruf akhir dari kata akhir sampiran sama dengan bunyi huruf akhir dari kata akhir isi atau kandungan isi. Kalau pantun biasa yang terdiri dari empat baris, bunyi huruf terakhir dari kata terkahir pada baris pertama berpasangan atau sama bunyinya dengan huruf terakhir pada kata terakhir baris ketiga. Baris kedua sama bunyinya atau berpasangan dengan baris keempat.***

Foto Pantun Melayu Sumber: tengkudennymuharpan.blogspot.com

Rabu, 09 Mei 2012

Wagubri Buka Mubes III JKOMR

PEKANBARU: Musyawarah Besar (Mubes) III Jaringan Komunikasi Organisasi Melayu Riau (JKOMR) dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Riau R. Mambang Mit, di Balai Adat Melayu Riau, Rabu (9/5). Hadir pada Mubes III JKOMR yang mengambil tema Melalui Persebatian Jaringan Komunikasi Organisasi Melayu Riau Mari Kita Tingkatkan Potensi Generasi Muda Melayu Menuju Visi Riau 2020 tersebut Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) H. Tenas Effendy, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Al Azhar, Ketua DPH Tengku Lukman Jaafar, para pimpinan organisasi Melayu di Riau, dan para jemputan lainnya.

Wakil Gubernur Riau Mambang Mit dalam sambutannya antara lain memaparkan mengenai tingginya angka pertumbuhan penduduk Riau yang mencapai angka 4% per tahun melebih angka pertumbuhan penduduk nasional yang hanya 2% saja. Tingginya angka pertumbuhan penduduk di Riau ini bukan disebabkan tingginya angka kelahiran di Riau melainkan tingginya angka migrasi ke Bumi Melayu ini.

“Migrasi tersebut akan terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan ekonomi Riau yang bagus,” kata Mambang. Dia mengatakan apa yang harus dilakukan orang Melayu Riau adalah bagaimana bisa mengambil posisi di tengah semakin ketatnya persaingan itu.

“Kita melihatnya secara konprehensif, jika orang lain bisa [sukses], mengapa kita tak bias,” kata Mambang. Mambang mengatakan jumlah orang Melayu yang bisa berbicara [sukses] sedikit, begitu juga di bidang dunia usaha, orang Riau tertinggal.

“Ibarat kita yang punya lapangan namun orang lain yang bermain dan berlatih sementara kita hanya menjadi penonton,” ujarnya. Kondisi ini, menurut Mambang, tidak bias hanya diserahkan kepada pemerintah semata melainnkan harus dipikirkan secara bersama-sama karena tak seorangpun lebih pintar dan lebih bijak dari orang lain.

“Semua itu membutuhkan kebersamaan, lemahnya kita karena kurangnya rasa kebersamaan diantara kita,” ujar Mambang. Pria asal Indragiri Hulu yang disebut-sebut merupakan sebagai kandidat Gubernur Riau ini mengatakan dirinya secara pribadi maupun atas nama Pemprov Riau menyambut baiknya hadirnya JKOMR. “Kita masih punya kesempatan untuk meraih kemajuan itu,” ujarnya.

Mambang mengatakan sesuai dengan Visi Riau 2020 yaitu upaya mewujudkan Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu Dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis di Asia Tenggara pada Tahun 2020 merupakan isyarat untuk tetap menjaga eksistensi Riau di Asia Tenggara.

“Kita jangan terlalu banyak berbicara soal perbedaan dan sesuatu yang bvelum kita capai. Yang penting bagaimana meningkatkan komunikasi diantara kita,” ujarnya.



Sementara itu Ketua Umum LAMR H Tenas Effendy mengatakan kearifan orang Melayu dengan bersikap santun dan baik kepada puak lain adakalanya disalahgunakan. Ungkapan dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung yang seharusnya dilakukan para pendatang di Riau, berubah menjadi dimana bumi dipijak di situ tanah dikavling.

Tenas mengingatkan ungkapan Melayu yang mengatakan buat baik berpada-pada, berbuat jahat jangan sekali. Dia khawatir jika orang Melayu tertekan akan menimbulkan amuk Melayu. Dia mengingatkan bahwa dalam pandangan orang Melayu, generasi muda bagaikan bintang di langit yang tinggi. “Untuk menjadi bintang di langit, generasi muda Melayu harus memiliki asas budaya Melayu itu,” kata Tenas. (Zul Azhar)



SAMBUTAN KETUA UMUM DPH LAMR 2012-2017


SAMBUTAN KETUA UMUM
DEWAN PIMPINAN HARIAN LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU PADA ACARA PENGUKUHAN PENGURUS LEMBAGA ADAT MELAYU riau
MASA KHIDMAT 2012-2017 M


Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh



Yang berbahagia: Datuk Seri HM Rusli Zainal, Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau, dan Datin Septina Primawati

Yang berbahagia: Datuk Ketua dan Anggota Majelis Kerapatan Adat, serta Anggota Dewan Kehormatan Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk-datuk Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten dan Kota se-Riau


Yang terhormat: Tuan Ketua dan Anggota DPRD Riau – Tuan-tuan Muspida Provinsi Riau – Tuan dan Puan Anggota DPR dan DPD RI – Tuan Gubernur Kepulauan Riau atau yang mewakili – Tuan Gubernur Jambi atau yang mewakili – Tuan-tuan Bupati dan Walikota se-Riau atau yang mewakili – Tuan-tuan Rektor Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas Islam Negeri, dan Universitas Lancang Kuning – Tuan-tuan dan Puan-puan Kepala Dinas dan Badan di lingkungan pemerintah Provinsi Riau – Tuan-tuan dan Puan-puan Pimpinan Paguyuban, Himpunan dan Ikatan Kekeluargaan – Tuan-tuan Kepala Sekolah Menengah Tingkat Atas se Kota Pekanbaru


Yang kami kasihi: Adik-adik dan anak-anak kami Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi se Kota Pekanbaru, Pengurus Himpunan/Ikatan Mahasiswa Kabupaten/Kota se-Riau, dan Ketua-ketua OSIS SMTA se Kota Pekanbaru

Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik yang kami hormati, yang besar tak dapat kami himbau gelar dan kebesarannya, yang kecil tak dapat kami sebutkan namanya, yang datang dari jauh dan dekat, yang berhimpun-pepat dalam majelis ini.

Mewakili Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau masa khidmat 2012-2017, perkenankan kami menyusun jari nan sepuluh, mengangkat sembah, dengan ikhlas menyampaikan ucapan setinggi-tinggi terima kasih kepada Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, dan Saudara/Saudari sekalian yang telah sudi menghadiri majelis ini. Izinkan pula kami sejenak berucap di hadapan Datuk Seri dan Datin, serta Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, dan Saudara-saudari sekalian, di depan majelis yang bermarwah ini.

Dengan bismillah permulaan kata
Bersyukur kepada Allah semata
Pemilik kuasa yang tiada berhingga
Pelimpah Rahmat ke alam semesta

Ke hadhirat Rasullullah, shalawat disampaikan
Salam teriring tiada berputusan
Penghulu alam, nabi junjungan
Syafaat darinya, sentiasa kita harapkan

Dialah panutan umat Islam
Akalbudinya penerang malam
Suluh terang di kabut kelam
Lakunya indah, tasik tentram



Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Lembaga Adat Melayu Riau ini ditubuhkan 41 tahun yang lalu, tahun 1971. Pada waktu itu, Provinsi Riau dipimpin oleh Gubernur yang ketiga, yaitu Birgjen Arifin Ahmad, anak jati Selatpanjang yang dalam sejarah kebudayaan Melayu di Riau amat patut dicatat sebagai pemimpin Provinsi Riau pertama yang paling jelas azamnya untuk “membangkit batang terendam”, dalam arti menggali kembali nilai-nilai budaya Melayu yang di masa itu tertimbus zaman, terkurung untuk kemudian satu per satu reput dan berkecai, lalu lenyap dalam kelupaan.

Proyek “membangkit batang terendam” itu beliau awali dengan memelopori penubuhan sebuah lembaga, Badan Pembinaan Kesenian Daerah (BPKD), simpul tempat budayawan dan seniman menelisik ke-Melayu-an, untuk kemudian direpresentasikan menerusi bahasa dan media-media baru, maujud dalam bentuk ekspresi-ekspresi yang kelak mengembara mencari dan menemukan khalayaknya, di masa itu dan di masa-masa sesudahnya.

Sebagai ekspresi estetis, kesenian sememangnya adalah di antara bahasa yang paling pukal mengetuk kesadaran akal-budi dan membangkitkan perasaan berkaum dan berjatidiri. Oleh karena itu, dari perspektif zaman kita sekarang ini, semangat yang ditularkan oleh Gubernur Arifin Ahmad adalah sebuah pilihan yang cerdas, menggoda pikiran dan hati untuk bangkit dari ketertiduran batin yang lenyak. 

Kesadaran berkaum-berjatidiri yang dibangkitkan oleh kesenian itulah, antara lain, yang meresakan keperluan-keperluan cerdik-cendekia semasa akan sebuah lembaga, Lembaga Adat Melayu Riau, yang tidak hanya dapat menyalurkan kehendak berkaum-berjatidiri anak-watan, tapi juga mengawal martabat dan marwah Melayu itu dalam perjalanannya ke depan.


Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan


Keadaan 40 tahun yang lalu, ketika Lembaga Adat Melayu Riau ini ditubuhkan, jelas sangat jauh berbeda dengan keadaan sesudahnya, lebih-lebih bila dibandingkan dengan keadaan hari ini. Pada masa itu, politik kenegaraan baru saja memasuki sebuah orde yang kelak kita alami sebagai sebuah rezim yang mengkonstruksi paradigma hirarkhis tentang Indonesia dan ke-Indonesia-an itu. Apa yang disebut sebagai “pusat” menjadi pengendali penuh “daerah”,  dalam hubungan “subyek” dan “obyek”. Sumber untuk konstruksi paradigma itu adalah kebudayaan dominan, kebudayaan kontinental-agraris di Pulau Jawa, yang diubah-suai sejalan dengan hasrat politik penguasa tunggalnya.

Kebudayaan Melayu –dan kebudayaan “daerah” lainnya—hanyalah pengarak dari pawai meriah kibaran panji-panji kebudayaan dominan: di bawa ke sungai, tempatnya di hilir-hilir; dibawa ke balai, tempatnya di tepi-tepi. Dan bersamaan dengan itu, ruang kehidupan kita pun mengalami rempuhan yang sebelumnya tidak pernah kita alami, bahkan di zaman kolonial sekalipun! Budayawan UU Hamidy menyebut masa-masa sesudah tahun 1970-an itu sebagai masa dimana nasib Riau hanyalah sebuah “padang perburuan”.

Bagaimanakah ruang kehidupan kita hari ini? Dari data mutakhir: lebih kurang 65 persen dari 8,6 juta hektar luas daratan provinsi Riau, sekarang telah berubah menjadi kawasan eksklusif; dikuasai oleh perusahaan swasta, perusahaan negara, dan masyarakat untuk fungsi tunggal, yaitu ekonomi berbasis lahan. Di atas sekitar 5,5 juta hektar lahan tersebut kini sudah dan sedang menjadi perkebunan (terutama sawit), kawasan operasi pertambangan (minyak bumi, gas, dan batubara), dan hutan tanaman industri. Jumlah luasan itu diperkirakan akan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang. 

Dari perspektif kebudayaan, kenyataan ini dapat dibaca sebagai suatu bentuk penyempitan ‘ruang kehidupan’ (lebensraum) sosial. Penyempitan itu pertama-tama dapat dirasakan dari penebalan garis-garis sempadan kekuasaan atas lahan. Seperti batas-batas kedaulatan negara, lahan-lahan yang dikuasai perusahaan itu selalu dikawal: baik secara fisik dengan menempatkan aparatur perusahaan, maupun dengan tulisan seperti “dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan”, dan lain-lain yang sejenis.

Kedua, pengusahaan atas lahan luas itu memerlukan manusia dalam jumlah yang masif, sebagai buruh atau tenaga kerja. Dalam kasus Riau, pemerolehannya bisa dari mana saja, di seluruh Indonesia. Pertambahan penduduk provinsi Riau yang sangat tinggi, sebagian besar disumbangkan oleh rekrutmen buruh untuk perusahaan-perusahaan ini, dan migrasi berantai yang mengiringinya. Setelah kontrak kerja dengan perusahaan atau kontraktor yang membawa mereka ke Riau berakhir, atau mereka menyelinap keluar karena merasakan pekerjaan itu dan hasilnya tidak memenuhi harapan minimal, mereka ‘bertarung hidup’ di rantau ini, mengusahakan lahan melalui agen-agen perdagangan tanah di kampung-kampung, membuka kantong-kantong hunian baru, dan sering terpisah dari tatanan, pola, dan irama kehidupan sosial kampung-kampung yang sudah ada di sekitarnya. Ketika kantong-kantong sosial yang baru ini mengembangkan bentuk-bentuk interaksi ekonomis-fungsional dengan kampung-kampung berdekatan, maka pada saat yang sama kawasan yang semula berciri pedesaan bergerak menuju praktik-praktik dan hubungan sosio-budaya berwajah perkotaan: kampung yang seolah-olah kota!

Ketiga, hampir seluruh lahan yang kini menjadi perkebunan, pertambangan, dan hutan tanaman industri itu semula adalah hutan tropis tanah gambut dan rawa-rawa, yang selama berabad-abad menjadi sarang nyaman bagi keanekaan hayati, tumbuh-tumbuhan dan hewan, pemasok air bersih berlimpah-ruah. Kelangkaannya mempersempit ruang dalam bentuk keterancaman kehidupan di hampir semua penjuru: mulai dari perubahan iklim, peningkatan suhu, kesulitan mendapatkan air bersih, banjir, serangan hewan liar, dan lain sebagainya.

Di ruang ini, harmoni sosial yang diagung-agungkan Melayu terlihat seperti menguap dibakar panas yang bersumber dari gesekan-gesekan perburuan kekuasaan politik, uang dan harta-benda, yang berlandaskan nafsu-nafsi. Prakarsa-prakarsa untuk meredam panas itu, dengan menggeser perburuan-perburuan tersebut ke landasan akal-budi, setakat ini kesannya barulah seperti embun yang daya hidupnya sangat sementara: dari subuh hingga matahari mengorak naik di timur.

Wira Melayu, Hang Tuah, konon pernah berkata: tuah sakti hamba negeri – esa hilang dua terbilang – patah tumbuh hilang berganti – takkan Melayu hilang di bumi. Melayu memang tak akan pernah hilang, karena masa lampaunya telah meninggalkan artefak kebudayaan yang kaya, dan kenangan yang sentiasa terpelihara dalam setiap pertukaran masa. Cuma saja, di dunia ini, artefak tempatnya lebih sering di museum; sedangkan kenangan lebih suka bermukim di sisi pasif-nostalgis kehidupan. Padahal kebudayaan bermastautin di ruang lahir-batin kenyataan sehari-hari kita.

Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Kalau dalam ucapan ini saya banyak menekankan tentang ruang kehidupan, itu tak lain karena kata orang tua-tua kita, sebagaimana disarikan oleh Tuan Haji Tenas Effendy:

Yang semut ada sarangnya,
yang kerbau ada padangnya,
yang ternak ada kandangnya,
yang manusia ada hutan-tanahnya,
ada kampung dengan halamannya” ...

Tentang hutan-tanah dikatakan:
Hutan-tanah sebagai lambang tuah dan marwah,
Hutan-tanah sebagai tempat mencontoh dan meneladan,
hutan-tanah sebagai sumber nafkah

Lalu:

Apa tanda bangsa bermarwah
Pertama ada rumah tangganya
Kedua ada dusun pusakanya
Ketiga ada kampung halamannya
Keempat ada hutan tanahnya
Kelima ada suak sungainya
Keenam ada payung panjinya
Ketujuh ada adat lembaganya
Kedelapan ada ico pakaiannya
Kesembilan ada undang barisnya
Kesepuluh ada ladang tumpuknya



Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan


Semua kebudayaan, meliputi pengertian gagasan, tindakan berpola, dan karya-karya, terbentuk dari adaptasi simultan makhluk manusia yang berinteraksi dengan lingkungannya. Kebudayaan adalah ecologigal determinism, kenyataan sehari-hari yang ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu, pemahaman kembali terhadap kebudayaan Melayu, untuk diarak ke peterakna kehidupan sehari-hari kita di masa kini dan masa depan, jelas tidak mungkin mengabaikan kenyataan-kenyataan peenyempitan ruang kehidupan yang sudah terjadi sekarang.

Sisi pedihnya dalam hal ini adalah bahwa kita hanya diposisikan sebagai ‘pencuci piring’ dari serangkaian pesta-pora keuntungan-keuntungan ekonomis berlimpah-ruah melalui penyempitan ruang itu, yang peluangnya berhulu pada kebijakan negara yang berlawanan dengan kearifan kebudayaan kita.

Namun saya percaya, kepedihan tak hanya melahirkan manusia-manusia yang selalu berwajah pilu, tapi juga orang-orang dengan kecerdasan akalbudi yang membuahkan tindakan-tindakan kebudayaan yang ranggi. Saya kira, semua pengurus Lembaga Adat Melayu Riau yang dikukuhkan hari ini menyadari hal itu, dan berkeazaman yang sama: mengubah ratap pilu hari menjadi tawa renyah bahagia masa depan; mengubah negeri ini dari ”padang perburuan” menjadi ”padang peradaban”.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi kita. Amin.

Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum wr wb.

Warkah MKA LAMR Tentang Olahraga Dansa

Warkah MKA LAMR Tentang Tidak Layaknya Cabang Olahraga Dansa Dipertandingkan Pada PON XVIII di Provinsi Riau






Senin, 07 Mei 2012

JKOMR Gelar Mubes III

PEKANBARU: Jaringan Komunikasi Organisasi Melayu Riau (JKOMR) akan menggelar Musyawarah Besar (Mubes) III, bertempat di Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro No. 39 Pekanbaru, Rabu (9/5). “Mubes III menurut rencana akan dibuka secara resmi oleh Tuan Gubernur Riau HM Rusli Zainal,” kata Ketua Panitia Mubes III JKOMR M. Naser Faisal. AP, kepada Lamriau.org, di Pekanbaru, Senin (7/5).

Menurut Faisal, selain akan dihadiri oleh Gubernur Riau, panitia juga akan mengundang bupati dan walikota kabupaten/kota se-Provinsi Riau. Dia mengatakan pada acara pembukaan nanti, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) H Tenas Effendy dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Al Azhar akan menyampaikan kata sambutannya.

Menurut Faisal, Mubes III JKOMR yang mengambil tema Peranan Jaringan Komunikasi Organisasi Melayu Riau Mewujudkan Organisasi Kepemudaan yang Berlandaskan Budaya dan Adat Resam dan Visi Riau 2020 ini akan diikuti sebanyak 32 organisasi Melayu yang menjadi organisasi simpul JKOMR.

Diantara materi Mubes III adalah pertama, menetapkan pokok-pokok program kerja empat tahunan JKOMR masa bakti 2012-2016.

Kedua, pemilihan dan penetapan Sekretaris Jenderal dan pengurus JKOMR masa bakti 2012-2016.

Ketiga, membahas pokok-pokok pikiran yang melandasi program kerja dan rekomendasi Mubes III, serta membahas hal lain yang dipandang perlu. Sementara itu, Presedium Askar Melayu Riau (AMRI) Alfien menilai Mubes III JKOMR suatu langkah positif agar organisasi Melayu kembali dapat menunjukkan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. “Kami berharap Mubes III JKOMR bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan,” kata Alfien. (za)

Kamis, 03 Mei 2012

Prosesi Pemakaman Alm H A Karim Said

H Abdoel Karim Said Tutup Usia, PEKANBARU Bumi lancang kuning kembali berduka, Tokoh Masyarakat Riau, H Abdoel Karim Said tutup usia di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. Pejuang yang mendedikasikan jiwanya untuk Indonesia dan Riau itu telah banyak mengukir sejarah dizamannya.

Orang tua Mantan Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Riau, H Nazief Soesila Dharma itu akan dikebumikan di pemakaman Sumber Sari, Tanjung Rhu, Pekanbaru. Kepergian tokoh yang lahir 8 November 1923 itu meninggalkan duka bagi keluarga dan sanak famili.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP melalui karo humas setda riau chairul riski MP mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas kepergian tokoh yang sudah menjadi aparatur pemerintah sejak tahun 1943 lalu. Menurut Gubri, tokoh tersebut merupakan figur yang banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan pembangunan daerah.

Dia mengharapkan, seluruh masyarakat Riau mendoakan tokoh masyarakat tersebut. Selain itu, keluarga yang ditinggalkan diharapkan dapat bersabar dan mendoakan pejuang yang telah banyak berjasa mengabdikan dirinya untuk masyarakat Riau.


Selama hidupnya, H Abdoel Karim Said telah banyak mengukir prestasi.  Tahun 1946, dia mendapat kepercayaan di Resiman Mayor Devisi Banteng Pekanbaru, selain itu mendiang juga pernah diperbantukan di staf Bupati Militer di Buatan Siak.

Selain itu, tokoh yang pensiun sebagai PNS tahun 1981 itu mendapatkan bintang penghargaan sebagai anggota Veteran RI, Bintang Pahlawan Gerilya, Lencana Perang Kemerdekaan, lencana penegak dan lencana lainnya. Selamat jalan H Abdoel Karim Said.

Rabu, 02 Mei 2012

Alamat LAMR Se-Provinsi Riau

1.    LAM RIAU
    Jl. Diponegoro No.39 Pekanbaru,
    Telp. 62-761-22313, Fax.62-761-2213.
    Email: lam.riau@yahoo.co.id.

2.    LAMR Pekanbaru
    Jl. Senapelan Pekanbaru
    HP.  08126874416 (Ir. H. Nasrun Effendy, MT)
    HP.08117613368 (H Syahrizal, SE, M.Si)

3.    LAMR Siak
    Balai Adat Melayu Siak
    Jl. Sultan Ismail No. 160
    HP. 08127587675, 081242195065 ( Drs. H. Kadri Yafiz, M.Si)

4.    LAMR Pelalawan
    Balai Adat Melayu Kabupaten Pelalawan
    Hp. 081365736188 (Ir. H. T. Edi Sabli)
    Hp. 08127535904 (Said Ikhsan)

5.    LAMR Rokan Hilir
    Balai Adat Melayu Rohil
    Jl. Utama No. 7
    Bagan Siapiapi
    Telp./faks. 0767-24450/22666
    HP. 08127506231 (Marzuki)

6.    LAMR Indragiri Hilir
    Balai Adat Melayu Indragiri Hilir
    Telp. 0768-22973, Fax.0768-21004
    Hp. 08127571357 (Drs. H. Alimuddin, MP)
    Hp. 08127580522 (Drs. Yusfery)

7.    LAMR Kota Dumai
    Balai Adat Melayu Dumai
    Jl. Putri Tujuh
    Hp. 08127591298, Fax. 0765-438113 (Syarif)

8.    LAMR Indragiri Hulu
    Hp. 08126874416,  Fax.0769 323688
    Hp. 085271972030

9.    LAMR Rokan Hulu
    Hp.  0811751226 (T. Rafli Armen)

10.    LAMR Kuantan Singingi
    Telp. 0760-561616
    Fax.0760-561617
    Hp.08126832145 (H. Fahmi Ombak)
    Hp.08126851044 (Suryawan Dt. Muda Bisai)

11.    LAMR Bengkalis
    Hp. 081276688882
    Telp. 0766-7007017
    Fax. 0766-21810/ 22331
    (Drs. H. Sulaiman, Dilp)
    Hp. 085265690109 (Drs. H. Azra’i)

12.    LAMR Kepulauan Meranti
    Hp. 081371531472 (Sudandri)

Sambutan Ketua Umum Pada Acara Pengukuhan


SAMBUTAN KETUA UMUM

DEWAN PIMPINAN HARIAN LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU PADA ACARA PENGUKUHAN PENGURUS LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU 

MASA KHIDMAT 2012-2017 M


Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Yang berbahagia: Datuk Seri HM Rusli Zainal, Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau, dan Datin Septina Primawati

Yang berbahagia: Datuk Ketua dan Anggota Majelis Kerapatan Adat, serta Anggota Dewan Kehormatan Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk-datuk Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten dan Kota se-Riau

Yang terhormat: Tuan Ketua dan Anggota DPRD Riau – Tuan-tuan Muspida Provinsi Riau – Tuan dan Puan Anggota DPR dan DPD RI – Tuan Gubernur Kepulauan Riau atau yang mewakili – Tuan Gubernur Jambi atau yang mewakili – Tuan-tuan Bupati dan Walikota se-Riau atau yang mewakili – Tuan-tuan Rektor Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas Islam Negeri, dan Universitas Lancang Kuning – Tuan-tuan dan Puan-puan Kepala Dinas dan Badan di lingkungan pemerintah Provinsi Riau – Tuan-tuan dan Puan-puan Pimpinan Paguyuban, Himpunan dan Ikatan Kekeluargaan – Tuan-tuan Kepala Sekolah Menengah Tingkat Atas se Kota Pekanbaru

Yang kami kasihi: Adik-adik dan anak-anak kami Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi se Kota Pekanbaru, Pengurus Himpunan/Ikatan Mahasiswa Kabupaten/Kota se-Riau, dan Ketua-ketua OSIS SMTA se Kota Pekanbaru

Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik yang kami hormati, yang besar tak dapat kami himbau gelar dan kebesarannya, yang kecil tak dapat kami sebutkan namanya, yang datang dari jauh dan dekat, yang berhimpun-pepat dalam majelis ini.

Mewakili Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau masa khidmat 2012-2017, perkenankan kami menyusun jari nan sepuluh, mengangkat sembah, dengan ikhlas menyampaikan ucapan setinggi-tinggi terima kasih kepada Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, dan Saudara/Saudari sekalian yang telah sudi menghadiri majelis ini. Izinkan pula kami sejenak berucap di hadapan Datuk Seri dan Datin, serta Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, dan Saudara-saudari sekalian, di depan majelis yang bermarwah ini.

Dengan bismillah permulaan kata
Bersyukur kepada Allah semata
Pemilik kuasa yang tiada berhingga
Pelimpah Rahmat ke alam semesta

Ke hadhirat Rasullullah, shalawat disampaikan
Salam teriring tiada berputusan
Penghulu alam, nabi junjungan
Syafaat darinya, sentiasa kita harapkan

Dialah panutan umat Islam
Akalbudinya penerang malam
Suluh terang di kabut kelam
Lakunya indah, tasik tentram


Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Lembaga Adat Melayu Riau ini ditubuhkan 41 tahun yang lalu, tahun 1971. Pada waktu itu, Provinsi Riau dipimpin oleh Gubernur yang ketiga, yaitu Birgjen Arifin Ahmad, anak jati Selatpanjang yang dalam sejarah kebudayaan Melayu di Riau amat patut dicatat sebagai pemimpin Provinsi Riau pertama yang paling jelas azamnya untuk “membangkit batang terendam”, dalam arti menggali kembali nilai-nilai budaya Melayu yang di masa itu tertimbus zaman, terkurung untuk kemudian satu per satu reput dan berkecai, lalu lenyap dalam kelupaan.
Proyek “membangkit batang terendam” itu beliau awali dengan memelopori penubuhan sebuah lembaga, Badan Pembinaan Kesenian Daerah (BPKD), simpul tempat budayawan dan seniman menelisik ke-Melayu-an, untuk kemudian direpresentasikan menerusi bahasa dan media-media baru, maujud dalam bentuk ekspresi-ekspresi yang kelak mengembara mencari dan menemukan khalayaknya, di masa itu dan di masa-masa sesudahnya.
Sebagai ekspresi estetis, kesenian sememangnya adalah di antara bahasa yang paling pukal mengetuk kesadaran akal-budi dan membangkitkan perasaan berkaum dan berjatidiri. Oleh karena itu, dari perspektif zaman kita sekarang ini, semangat yang ditularkan oleh Gubernur Arifin Ahmad adalah sebuah pilihan yang cerdas, menggoda pikiran dan hati untuk bangkit dari ketertiduran batin yang lenyak.
Kesadaran berkaum-berjatidiri yang dibangkitkan oleh kesenian itulah, antara lain, yang meresakan keperluan-keperluan cerdik-cendekia semasa akan sebuah lembaga, Lembaga Adat Melayu Riau, yang tidak hanya dapat menyalurkan kehendak berkaum-berjatidiri anak-watan, tapi juga mengawal martabat dan marwah Melayu itu dalam perjalanannya ke depan.


Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Keadaan 40 tahun yang lalu, ketika Lembaga Adat Melayu Riau ini ditubuhkan, jelas sangat jauh berbeda dengan keadaan sesudahnya, lebih-lebih bila dibandingkan dengan keadaan hari ini. Pada masa itu, politik kenegaraan baru saja memasuki sebuah orde yang kelak kita alami sebagai sebuah rezim yang mengkonstruksi paradigma hirarkhis tentang Indonesia dan ke-Indonesia-an itu. Apa yang disebut sebagai “pusat” menjadi pengendali penuh “daerah”,  dalam hubungan “subyek” dan “obyek”. Sumber untuk konstruksi paradigma itu adalah kebudayaan dominan, kebudayaan kontinental-agraris di Pulau Jawa, yang diubah-suai sejalan dengan hasrat politik penguasa tunggalnya.
Kebudayaan Melayu –dan kebudayaan “daerah” lainnya—hanyalah pengarak dari pawai meriah kibaran panji-panji kebudayaan dominan: di bawa ke sungai, tempatnya di hilir-hilir; dibawa ke balai, tempatnya di tepi-tepi. Dan bersamaan dengan itu, ruang kehidupan kita pun mengalami rempuhan yang sebelumnya tidak pernah kita alami, bahkan di zaman kolonial sekalipun! Budayawan UU Hamidy menyebut masa-masa sesudah tahun 1970-an itu sebagai masa dimana nasib Riau hanyalah sebuah “padang perburuan”.
Bagaimanakah ruang kehidupan kita hari ini? Dari data mutakhir: lebih kurang 65 persen dari 8,6 juta hektar luas daratan provinsi Riau, sekarang telah berubah menjadi kawasan eksklusif; dikuasai oleh perusahaan swasta, perusahaan negara, dan masyarakat untuk fungsi tunggal, yaitu ekonomi berbasis lahan. Di atas sekitar 5,5 juta hektar lahan tersebut kini sudah dan sedang menjadi perkebunan (terutama sawit), kawasan operasi pertambangan (minyak bumi, gas, dan batubara), dan hutan tanaman industri. Jumlah luasan itu diperkirakan akan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang.
Dari perspektif kebudayaan, kenyataan ini dapat dibaca sebagai suatu bentuk penyempitan ‘ruang kehidupan’ (lebensraum) sosial. Penyempitan itu pertama-tama dapat dirasakan dari penebalan garis-garis sempadan kekuasaan atas lahan. Seperti batas-batas kedaulatan negara, lahan-lahan yang dikuasai perusahaan itu selalu dikawal: baik secara fisik dengan menempatkan aparatur perusahaan, maupun dengan tulisan seperti “dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan”, dan lain-lain yang sejenis.
Kedua, pengusahaan atas lahan luas itu memerlukan manusia dalam jumlah yang masif, sebagai buruh atau tenaga kerja. Dalam kasus Riau, pemerolehannya bisa dari mana saja, di seluruh Indonesia. Pertambahan penduduk provinsi Riau yang sangat tinggi, sebagian besar disumbangkan oleh rekrutmen buruh untuk perusahaan-perusahaan ini, dan migrasi berantai yang mengiringinya. Setelah kontrak kerja dengan perusahaan atau kontraktor yang membawa mereka ke Riau berakhir, atau mereka menyelinap keluar karena merasakan pekerjaan itu dan hasilnya tidak memenuhi harapan minimal, mereka ‘bertarung hidup’ di rantau ini, mengusahakan lahan melalui agen-agen perdagangan tanah di kampung-kampung, membuka kantong-kantong hunian baru, dan sering terpisah dari tatanan, pola, dan irama kehidupan sosial kampung-kampung yang sudah ada di sekitarnya. Ketika kantong-kantong sosial yang baru ini mengembangkan bentuk-bentuk interaksi ekonomis-fungsional dengan kampung-kampung berdekatan, maka pada saat yang sama kawasan yang semula berciri pedesaan bergerak menuju praktik-praktik dan hubungan sosio-budaya berwajah perkotaan: kampung yang seolah-olah kota!
Ketiga, hampir seluruh lahan yang kini menjadi perkebunan, pertambangan, dan hutan tanaman industri itu semula adalah hutan tropis tanah gambut dan rawa-rawa, yang selama berabad-abad menjadi sarang nyaman bagi keanekaan hayati, tumbuh-tumbuhan dan hewan, pemasok air bersih berlimpah-ruah. Kelangkaannya mempersempit ruang dalam bentuk keterancaman kehidupan di hampir semua penjuru: mulai dari perubahan iklim, peningkatan suhu, kesulitan mendapatkan air bersih, banjir, serangan hewan liar, dan lain sebagainya.
Di ruang ini, harmoni sosial yang diagung-agungkan Melayu terlihat seperti menguap dibakar panas yang bersumber dari gesekan-gesekan perburuan kekuasaan politik, uang dan harta-benda, yang berlandaskan nafsu-nafsi. Prakarsa-prakarsa untuk meredam panas itu, dengan menggeser perburuan-perburuan tersebut ke landasan akal-budi, setakat ini kesannya barulah seperti embun yang daya hidupnya sangat sementara: dari subuh hingga matahari mengorak naik di timur.
Wira Melayu, Hang Tuah, konon pernah berkata: tuah sakti hamba negeri – esa hilang dua terbilang – patah tumbuh hilang berganti – takkan Melayu hilang di bumi. Melayu memang tak akan pernah hilang, karena masa lampaunya telah meninggalkan artefak kebudayaan yang kaya, dan kenangan yang sentiasa terpelihara dalam setiap pertukaran masa. Cuma saja, di dunia ini, artefak tempatnya lebih sering di museum; sedangkan kenangan lebih suka bermukim di sisi pasif-nostalgis kehidupan. Padahal kebudayaan bermastautin di ruang lahir-batin kenyataan sehari-hari kita.

Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Kalau dalam ucapan ini saya banyak menekankan tentang ruang kehidupan, itu tak lain karena kata orang tua-tua kita, sebagaimana disarikan oleh Tuan Haji Tenas Effendy:

Yang semut ada sarangnya,
yang kerbau ada padangnya,
yang ternak ada kandangnya,
yang manusia ada hutan-tanahnya,
ada kampung dengan halamannya” ...

Tentang hutan-tanah dikatakan:
Hutan-tanah sebagai lambang tuah dan marwah,
Hutan-tanah sebagai tempat mencontoh dan meneladan,
hutan-tanah sebagai sumber nafkah

Lalu:

Apa tanda bangsa bermarwah
Pertama ada rumah tangganya
Kedua ada dusun pusakanya
Ketiga ada kampung halamannya
Keempat ada hutan tanahnya
Kelima ada suak sungainya
Keenam ada payung panjinya
Ketujuh ada adat lembaganya
Kedelapan ada ico pakaiannya
Kesembilan ada undang barisnya
Kesepuluh ada ladang tumpuknya


Datuk Seri dan Datin, Datuk-datuk, Tuan-tuan, Puan-puan, Encik-encik, Saudara-saudari jemputan majelis yang kami muliakan

Semua kebudayaan, meliputi pengertian gagasan, tindakan berpola, dan karya-karya, terbentuk dari adaptasi simultan makhluk manusia yang berinteraksi dengan lingkungannya. Kebudayaan adalah ecologigal determinism, kenyataan sehari-hari yang ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu, pemahaman kembali terhadap kebudayaan Melayu, untuk diarak ke peterakna kehidupan sehari-hari kita di masa kini dan masa depan, jelas tidak mungkin mengabaikan kenyataan-kenyataan peenyempitan ruang kehidupan yang sudah terjadi sekarang.
Sisi pedihnya dalam hal ini adalah bahwa kita hanya diposisikan sebagai ‘pencuci piring’ dari serangkaian pesta-pora keuntungan-keuntungan ekonomis berlimpah-ruah melalui penyempitan ruang itu, yang peluangnya berhulu pada kebijakan negara yang berlawanan dengan kearifan kebudayaan kita.

Namun saya percaya, kepedihan tak hanya melahirkan manusia-manusia yang selalu berwajah pilu, tapi juga orang-orang dengan kecerdasan akalbudi yang membuahkan tindakan-tindakan kebudayaan yang ranggi. Saya kira, semua pengurus Lembaga Adat Melayu Riau yang dikukuhkan hari ini menyadari hal itu, dan berkeazaman yang sama: mengubah ratap pilu hari menjadi tawa renyah bahagia masa depan; mengubah negeri ini dari ”padang perburuan” menjadi ”padang peradaban”.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi kita. Amin.
Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamualaikum wr wb.