Pekanbaru, 21-24 Desember 2014
Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi
Balai Adat Melayu Riau, di Jalan Diponegoro No. 39 Pekanbaru, Riau, Indonesia.
Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar bersama penerima Anugerah Budaya DMDI lainnya, di Hotel Hatten, Melaka, 23 Oktober 2014.
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adyaksa Dault saat berkunjung ke LAM Riau, Kamis, 8 Mei 2014
Ketua Umum LAM Riau H Tenas Effendy memberikan cendera mata kepada Ketua DPRD Kepri Ir. H. Nur Syafriadi, M.Si saat berkunjung ke LAM Riau, 28 April-2014
Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy sebagai pembicara utama pada Conference on Islamic Business, Art Culture and Communication (ICIBACC 2014), Melaka, 26 Agus 2014.

Selasa, 23 Desember 2014

Musker LAM Riau Resmi Ditutup

Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy dan sejumlah pengurus LAM Riau berfoto bersama utusan LAM Riau Kabupaten/Kota usai acara penutupan Musker LAM Riau 2014, Selasa, 23/12/2014.
Setiusaha Parlemen Kanan Kementrian Pendidikan dan Tenaga Manusia Singapura Encik Hawazi Daipi. Hawazi menyerahkan cendera mata kepada Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar.
PEKANBARU: Musyawarah Kerja (Musker) Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) tahun 2014 yang dilaksanakan sejak Senin (22/12) akhirnya ditutup secara resmi oleh Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Selasa sore (23/12/2014).
Kegiatan ini semula diperkirakan ditutup Rabu (24/12/2014), namun karena semua sidang-sidang mulai dari sidang pleno dan komisi berjalan lancar, Musker dapat diselesaikan lebih awal.
Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy dalam sambutan penutupannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta Musker LAM Riau yang telah mengikuti dan mencurahkan pemikiran selama Musker. “Semoga apa yang menjadi keputusan kita bersama selama Musker ini dapat kita wujudkan,” kata Tenas.
Sejumlah pokok pikiran menjadi bahasan pada Musker LAM Riau kali ini mulai dari penetapan dan pembentukan desa adat, mengenai penataan dan pembinaan kesatuan hukum adat dan hak-hak tradisional masyarakat adat.
Selain itu mengenai isu strategis menyangkut ideologi, politik, sosial, dan budaya (ipoleksosbud), kriminalitas, penyakit masyarakat, narkoba, sinkronisasi program kerja LAM Riau provinsi dan kabupaten/kota, dan eksistensi pemberdayaan LAM Riau dan kabupaten/kota.
Musker juga membahas mengenai muatan lokal budaya Melayu, langkah-langkah dalam memacu perwujudkan Visi Riau 2020. Selain itu perancangan dan penetapan pemberian gelar adat juga menjadi hal yang menjadi keputusan Musker.
Sebelumnya pada pagi hari, peserta Musker LAM Riau mendapat kesempatan beramah tamah dengan Setiusaha [Sekretaris] Parlemen Kanan Kementrian Pendidikan dan Tenaga Manusia Singapura Encik Hawazi Daipi. Hawazi juga mendapat kesempatan menyampaikan sejumlah pemikirannya mengenai Melayu serta menyaksikan Bengkel Syair yang merupakan pertemuan para pakar yang membahas mengenai seluk-beluk syair.
Kegiatan Bengkel Syair yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan selama Musker Lam Riau ini diikuti sekitar 20 peserta antara lain Prof. Madya Dr. Indirawati Zahid dan Prof. Madya Dr. Muhammad Nasir Hasyim dari Universiti Malaya, disamping H Tenas Effendy dan Al Azhar. (*)

Minggu, 21 Desember 2014

LAM Riau Gelar Musyawarah Kerja


PEKANBARU: Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) akan menggelar Musyawarah Kerja (Musker) Tahun 2014 yang antara lain bertujuan mengevaluasi program kerja tahun 2014 dan menyusun program kerja tahun 2015, bertempat di Balai Adat Melayu Riau, Pekanbaru, 21-24 Desember 2014.
“Musker juga akan membuat sejumlah rekomendasi yang berkaitan dengan adat dan isyu-isyu penting di Provinsi  saat ini,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar dalam siaran persnya kepada media massa, Ahad (21/12).
Menurut Al Azhar, Musker LAM Riau yang mengambil tema Meningkatkan Peran LAM Riau dalam Mewujudkan Pencapaian Visi Riau 2020 ini nantinya akan diikuti 133 peserta yang berasal dari pengurus Majelis Kerapatan Adat (MKA), Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Provinsi, LAM Riau kabupaten/kota se-Provinsi Riau, serta para peninjau.
Al Azhar mengatakan Musker LAM Riau 2014 ini menurut rencana akan dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Gubernur Riau Ir. H Arsyadjuliandi Rachman, MBA
“Pada kesempatan tersebut, Plt. Gubernur Riau juga akan meresmikan laman web Perpustakaan LAM Riau,” kata kata Al Azhar.
Bersempena Musker LAM Riau 2014 ini juga akan dilaksanakan Bincang Budaya dengan menghadirkan narasumber dari negara jiran Malaysia dan dari Riau sendiri, Pameran Buku, dan Bengkel Syair.
Bincang Budaya ini akan dilaksanakan Senin siang (22/12), usai acara pembukaan dengan menghadirkan sejumlah narasumber yaitu Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang juga Profesor Kehormat Beijing Foreign Studies University Datuk Dr. Awang bin Sariyan, Prof. Dr. Datuk Latif Abubakar, Prof. Madya Datuk Dr. Zainal Abidin Burhan dari Yayasan Karyawan Malaysia yang juga penerima Anugerah Budaya Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) 2014 dan Anugerah Sagang kategori Budayawan Serantau 2014, serta Drs. H.  Taufik Ikram Jamil dari Riau.
Sedangkan kegiatan Bengkel Syair merupakan pertemuan para pakar yang akan membahas mengenai seluk-beluk syair dalam upaya melahirkan adanya buku panduan syair akan diikuti oleh 20 peserta antara lain Prof. Madya Dr. Indirawati Zahid dan Prof. Madya Dr. Muhammad Nasir Hasyim dari Universiti Malaya, disamping H Tenas Effendy dan Al Azhar. (r)

Kamis, 18 Desember 2014

Herliyan Saleh Dikukuhkan Sebagai Datuk Setia Amanah Junjungan Negeri


PEKANBARU: Bupati Bengkalis Ir. H. Herliyan Saleh, M.Sc dan Wakil Bupati Bengkalis Suayatno yang mendapat anugerah sebagai Datuk Setia Amanah Junjungan Negeri dan Datuk Muda Setia Amanah Junjungan Negeri Masyarakat Adat Melayu Kabupaten Bengkalis dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) Kabupaten Bengkalis.

Prosesi penganugerahan diselenggarakan di Gedung Sri Mahkota Bengkalis, Senin (11/08/2014) yang dihadiri Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar, Wakil Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rahman, MBA, para tokoh dan jemputan lainnya.
Selain mendapat anugerah sebagai Datuk Setia Amanah Junjungan Negeri, Bupati Bengkalis Herliyan Saleh juga mendapat gelar tetap dari LAM Riau dengan gelar Datuk Seri Bina Wangsa. (za)


Dalami Budaya Melayu, Mahasiswa KUIM Melaka Kunjungi LAM Riau

Berfoto bersama di depan Balai Adat Melayu Riau usai melakukan dialog.
PEKANBARU- Sebanyak 10 orang mahasiswa Kolej University Islam Melaka (KUIM), Melaka, Malaysia melalui Program Interaktif Antarabangsa yang berlangsung 8-11 Juni 2014 didampingi sejumlah dosen melakukan kunjungan ke Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau), Selasa (10/06/2014).
Ketua Umum MKA H Tenas Effendy dan Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar saat menerima tamunya dari KUIM, Melaka, Malaysia.

Ketua Umum MKA H Tenas Effendy dan Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar saat menerima tamunya dari KUIM, Melaka, Malaysia.

“Kami ingin mengetahui mengenai adat dan budaya Melayu di Riau serta untuk mempererat silaturahmi,” kata  dosen KUIM Melaka Datuk Dr. H. Baharuddin bin Haji Puteh,”, saat menyampaikan alasan kunjungan dia bersama mahasiswa KUIM Melaka ke LAM Riau.Menurut Baharuddin, mahasiswa dari KUIM Melaka ingin mendalami bagaimana kehidupan dan seluk beluk budaya Melayu di Riau. Mengingat, Riau dan Malaysia merupakan rumpun Melayu yang tak dapat dipisahkan.

“Kami juga ingin tahu bagaimana peranan LAM Riau dalam menjaga dan melestarikan budaya Melayu dalam kehidupan masyarakatnya,” ujar Baharudin.
Seorang mahasiswi KUIM Melaka mengajukan pertanyaan.

Seorang mahasiswi KUIM Melaka mengajukan pertanyaan.

Kehadiran mahasiswa dan pensyarah KUIM Melaka di Balai Adat Melayu Riau diterima langsung oleh Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar, anggota MKA LAM Riau H Marjohan Yusuf, Prof. H Mukhtar Samad, Ketua DPH LAM Riau Tengku Lukman Jaafar dan pengurus LAM Riau lainnya.

Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar pada kesempatan itu memperkenalkan keberadaan LAM Riau kepada dosen dan mahasiswa KUIM Melaka yang hadir.

Al Azhar mengatakan LAM Riau yang berdiri sejak 44 tahun silam tepatnya pada 6 Juni 1970 telah menjalankan peran penting dalam membina, mengekalkan, dan mengembangkan adat nilai asas budaya Melayu.

“Kami berupaya menjaga agar adat dan budaya Melayu terus bertahan dan tidak terjejas seiring gencarnya serangan dari budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai adat dan budaya Melayu,” kata Al Azhar.

Menurut Al Azhar, jika di Malaysia ada semboyan Tak Melayu Hilang di Dunia, tetapi di Riau ada semboyan Tak Melayu Hilang di Bumi.

“Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi,” ujar Al Azhar.

Dia menjelas bahwa orang Melayu di Riau menginginkan agar Melayu itu benar-benar wujud di bumi tidak sekadar wujud di dalam tulisan ataupun di cyber.

“Kami ingin Melayu menjadi kenyataan yang dapat diraba dan dirasai. Apa artinya jika Melayu jika hanya ada di surat dan dalam pikiran. Bagi kami ada keyakinan menjadikan Melayu wujud dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu azam,” kata Al Azhar.
H Tenas Effendy menyerahkan cendera mata berupa buku hasil karyanya kepada Datuk Dr. H. Baharuddin Haji Puteh dari KUIM Melaka.

H Tenas Effendy menyerahkan cendera mata berupa buku hasil karyanya kepada Datuk Dr. H. Baharuddin Haji Puteh dari KUIM Melaka.

Ke depan, pekerjaan yang harus dilakukan LAM Riau sangat berat, apalagi institusi kerajaan [pemerintahan] di Indonesia tidak bersumber dari institusi kerajaan yang ada. “Melayu di Riau bukan lagi beraja, karena kami merupakan republik dimana di Riau sudah menjadi dua entiti politik yaitu Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan ibukota Tanjungpinang dan Provinsi Riau dengan ibukota Pekanbaru,” ujar Al Azhar.

Al Azhar mengatakan di Provinsi Riau sedikitnya pernah ada 12 kerajaan besar dan kecil seperti Kerajaan Siak, Kerajaan Indragiri, Rokan, dan lain-lain serta kedatuan.

Provinsi Riau memiliki empat sungai besar yaitu Sungai Siak, Sungai Indragiri, Sungai Kampar, dan Sungai Rokan, dimana penduduknya mempunya watak yang berbeza. “Untuk itulah, LAM Riau ini berbentuk konfederasi dimana perbedaan adat dan budaya masing-masing daerah dapat dikekalkan,” ujarnya.

Ketua Umum LAM Riau H Tenas Effendy mengatakan antara Riau dan Malaysia memiliki kesamaan adat dan budaya. Dalam catatan Tenas ada 67 tempat di Malaysia yang namanya sama dengan nama tempat Riau.

“Meskipun kita terpisah secara politik pasca perjanjian London atau Traktat London antara Inggris-Belanda tahun 1824, namun secara adat dan budaya kita tak bisa dipisahkan,” kata Tenas.

Untuk itulah, Tenas menyambut baik adanya kerja sama, dan kontak, untuk mempererat hubungan antara Malaysia dan Indonesia dan Riau pada khususnya seperti adanya kerja sama Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang telah ada.

Tenas juga mengatakan bagi orang Melayu malu jika disebut tidak beradat karena adat dan budaya Melayu identik dengan nilai-nilai Islam sebagaimana ungkapan adat bersendi syarat, syarak bersendi kitabullah.

Pada kesempatan tersebut Tenas juga menyampaikan kekhawatirannya jika generasi muda termasuk di Malaysia mulai tercerabut dari akar adat dan budaya Melayunya.

“Berpakaian Melayu diejek, dan pada acara perkahwinan hanya sedikit mengenakan pakaian Melayu,” kata Tenas.

Tenas mengatakan agar adat dan budaya Melayu dapat terus bertahan maka pendukung budaya Melayu harus merasa memiliki kebudayaannya, merasa bangga, dan mampu mengamalkan  dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang mahasiswi KUIM Melaka Miesha menanyakan tulisan Arab Melayu (Jawi) yang saat ini mulai tidak dikenal generasi muda di Malaysia. “Bagaimana dengan di Indonesia? Upaya seperti apa yang dilakukan supaya tulisan ini tetap bertahan,” tanya Miesha.

Menjawab pertanyaan mahasiswi KUIM Melaka itu, Al Azhar menjelaskan sejak tahun 1980 hingga tahun 2000-an, kurikulum pendidikan di Indonesia mewajibkan pelajaran Arab Melayu hingga ke bangku SMA. Namun, dalam kurikulum selanjutnya pelajaran Arab Melayu dimasukkan ke pelajaran muatan lokal.

“Dimana, pihak sekolah diberi kewenangan untuk menentukan apa saja isi dari muatan lokal dan ada juga sekolah yang tak mengajarkan lagi. Mereka menilai, pelajaran itu tidak terlalu penting,” katanya.

Namun demikian, LAM Riau berupaya agar tulisan Arab Melayu ini tetap ada. Caranya, dengan menulis nama-nama jalan dengan huruf Arab Melayu dan huruf latin. (rilis)

LAM Riau Peringati Milad ke-44

Ketua Umum MKA H Tenas Effendy menyampaikan sambutan pada Peringatan Milad ke-43 LAM Riau, Syukuran Menyambut Bulan Suci Ramadhan, dan Pembukaan Pembekalan Adat kepada Pengurus LAM Riau kabupaten/kota se-Provinsi Riau, di Balai Adat Melayu Riau, Sabtu malam (21/6/2014)

PEKANBARU:  Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) memperingati Milad ke-44 yang dirangkaikan dengan  Syukuran dan Doa Bersama Menyambut Bulan Suci Ramadan 1435 H serta Pembukaan Pembekalan Adat untuk LAM Riau Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau di Balai Adat Melayu Riau, Sabtu malam (21/6/2014).Pada peringatan Milad ke-44 LAM Riau Tahun 2014 yang mengambil tema Memartabatkan Adat Mensejahterakan Umat ini hadir Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar, para anggota Dewan Kehormatan Adat (DKA) LAM Riau, pengurus LAM Riau dan pengurus LAM Riau kabupaten/kota se-Provinsi Riau, paguyuban etnis di Pekanbaru, organisasi kekeluargaan kabupaten/kota se-Provinsi Riau di Pekanbaru, tokoh masyarakat, kepala sekolah SMP & SMA di Pekanbaru, dan jemputan lainnya.

Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy mengatakan diambilnya tema Memartabatkan Adat Mensejahterakan Umat karena masyarakat Melayu di Riau ini adalah masyarakat yang beradat sesuai ungkapan adat bersendi syarak dan syarak bersendikan kitabullah.

“Jadi, adat salah satu ruh budaya Melayu itu harus kita martabatkan, kalau dia bermartabat dia akan diikuti orang, diamalkan orang dan akan mempengaruhi pola hidup orang, menjadi pedoman hidup orang dan itu yang perlu kita lakukan sekarang, sebab kalau itu sudah dilakukan dan terwujud maka masyarakat itu akan sejahtera,” ujar Tenas.

Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar mengatakan untuk mencapai tujuan  Memartabatkan Adat Mensejahterakan Umat  maka dengan berbagai hal akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut menjalin kerja sama pihak lain seperti dengan Polda Riau dengan melaksanakan diskusi masalah narkoba.

“Dengan bebasnya Riau dari narkoba maka dengan sendirinya akan lahir kesejahteraan masyarakat yang beradat,” ujarnya.

Selain itu, LAM Riau akan melaksanakan diskusi dengan seluruh pengurus LAM Riau kabupaten dan kota menyangkut hak-hak masyarakat adat, terutama yang berkaitan dengan hutan tanah, baik hutan tanah sebagai ekonomi, hutan tanah, sebagai simbol marwah maupun hutan sebagai sumber bagi pengembangan budaya.

Sabtu siang (21/6), pengurus LAM Riau kabupaten/kota se-Riau mengikuti pemaparan Direktur Reserse Narkoba Polda Riau Kombes Pol Hermansyah, SH, S.Ik dengan judul Peranan Lembaga Adat Melayu Riau Menuju Riau Bebas Narkoba Tahun 2015.
Kegiatan Pelatihan/Pembekalan Adat untuk LAM Riau Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau dimulai Ahad pagi (22/6/2014), dengan menampilkan narasumber Dr. Firdaus, SH, MH dengan makalah tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, dan T Rafizal, S.Sos, M.Si dengan makalah tentang UU No. 6 Tahun 2014 tentang Pemerintah Desa.

Narasumber berikutnya adalah Ketua MKA LAM Riau H Tenas Effendy dengan makalah Upacara-Upacara Adat dan topik mengenai Pemangku Adat, Tugas, dan Tangung Jawab, serta H Zulkifli ZA dengan makalah Pakaian Melayu. (r)