Pekanbaru, 21-24 Desember 2014
Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi
Balai Adat Melayu Riau, di Jalan Diponegoro No. 39 Pekanbaru, Riau, Indonesia.
Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar bersama penerima Anugerah Budaya DMDI lainnya, di Hotel Hatten, Melaka, 23 Oktober 2014.
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adyaksa Dault saat berkunjung ke LAM Riau, Kamis, 8 Mei 2014
Ketua Umum LAM Riau H Tenas Effendy memberikan cendera mata kepada Ketua DPRD Kepri Ir. H. Nur Syafriadi, M.Si saat berkunjung ke LAM Riau, 28 April-2014
Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy sebagai pembicara utama pada Conference on Islamic Business, Art Culture and Communication (ICIBACC 2014), Melaka, 26 Agus 2014.

Jumat, 08 Juni 2012

HUT 42 LAM RIAU : Riau Pusat Budaya Melayu Asia Tenggara

LAM Riau genap berusia 42 tahun. Dalam sambutannya, Gubri M Rusli Zainal mengharapkan daerahnya jadi pusat Budaya Melayu Asia Tenggara.

Riauterkini-PEKANBARU- Sempena hari jadi Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau ke 42 tahun, diharapkan akan lebih baik lagi. Dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi komitmen Riau sebagai pusat budaya Melayu di Asia Tenggara dan pusat Ekonomi sesuai dengan visi dan misi Riau 2020.

" LAM diusianya yang keempat puluh dua tahun, tentunya diharapkan akan lebih baik lagi dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi komitmenn Riau, yaitu menjadikan Riau menjadi pusat budaya Melayu di Asia Tenggara. Sesuai visi dan misi Riau 2020," katanya.

Gubernur Riau, HM Rusli Zainal mengatakan, adat Melayu Riau yang hakiki tidak boleh terkikir oleh masa dan moderenisasi dengan masuknya budaya baru. Tapi justru budaya Melayu harus dipupuk dan terus dikembangkan selama dunia ini masih ada dan terus menyesuaikan dengan mengambil nilai-nilai positif dari budaya yang masuk.

"Adat Melayu yang hakiki tidak boleh terkikis dari Bumi oleh masa dan budaya luar yang masuk, tapi justru kita pupuk dan kembangkat selama dunia ini masih ada. Dengan mengambil nilai positif dari budaya yang masuk, agar budaya Melayu tetap eksis" ujar Gubri.

Adat budaya Melayu sebagai wujud dan cerminan Bangsa Melayu, kata HM Rusli Zainal harus memegang teguh titah budaya Melayu itu sendiri dan degan kepercayaan diri yang kokoh dan tinggi.

"Ditengah arus peruban yang begitu deras, kita harus bisa mengembangkan sistem budaya Melayu yang besar dan landasan bagi budaya lainnya. Dengan penuh kepercayaan diri yang kokoh," ungkapnya.

. Sementara itu ketua LAM Riau, Al Azhar mengatakan, sepanjang usianya yang keempat puluh dua tahun baru kali ini LAM dirayakan secara formal. Diharapkan dengan bertambahnya usia. LAM tetap budaya Melayu yang eksis dan dinamis mengikuti perkembangan ditengah jaman dan arus budaya yang kuat.

"LAM ini kita bentuk dengan tujuan untuk menjaga eksistensi adat dan budaya Melayu yang dinamis. Patah tumbuh hilang berganti, dan anggotanya pada umumnya adalah orang-orang terpilih dari PNS, Seniman dan pengusaha yang hampir semuanya hidup dalam perkotaan," kata ketua LAM Riau ini.

Al Azhar juga mengatakan, dihari jadi LAM yang keempat puluh dua ini, minta agar ini dijadikan moment khusus. Apalagi ini pertama kali secara formal hari jadi LAM Riau dirayakan. "Dan ini adalah momentum kita untuk LAM ke depan lebih baik lagi," sebutnya.***(jor)

Sumber :
http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=47739


LAM Riau Bertekad Jaga Kelestarian Budaya Melayu di Riau

Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau bertekad akan menjaga kelestarian budaya melayu di Riau. Untuk itu diperlukan kepedulian semua pihak.

“Kelestarian budaya melayu adalah tanggung jawab kita sebagai masyarakat Riau,” ujar Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR H Tenas Effendy saat acara HUT ke 42 LAM Riau di Balai Adat Melayu Riau, Rabu (6/6/2012).

Menurut Tenas, budaya Melayu juga jadi perekat hubungan antar etnis dan golongan yang ada di Riau. Dan jadi komitmen LAM Riau bersama Pemerintah daerah di Riau untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggaran sesuai dengan misi dan visi Riau 2020.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Riau HM Rusli Zainal juga mengatakan, LAM Riau punya peran strategis yang diharapkan dapat memberikan warna baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tertuang dalam Perda Riau tentang LAM.

“Komitmen kita bersama untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggaran sesuai dengan misi dan visi Riau 2020. LAM punya peran strategis yang diharapkan bisa memberikan warna baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tertuang dalam Perda Riau tentang LAM," katanya.

Gubri mengungkapkan, adat budaya Melayu sebagai jati diri bangsa Melayu untuk menjaga harkat dan martabat dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya dengan memengang teguh titah yang ada pada budaya Melayu itu sendiri. Lanjut HM Rusli Zainal, dengan keberadaan adat Melayu dan adat lainya yang ada di Riau akan merupakah harmonisasi yang harus dijaga bersama karena perbedaan itu adalah berkah.

"Adat Melayu tidak boleh terkikis dari bumi ini dan justru diperihara selama peradapan dunia belum berakhir. Dan upaya serta langkah-langkah penting yang harus kita lakukan dalam memelihara adat budaya Melayu, bagaimana kita memfilter budaya-budaya asing yang masuk. Untuk itulah peran LAM Riau sangat penting untuk kita dalam junjung tinggi nilai-nilai budaya Melayu," terang Gubri.

Tampak hadir pada acara tersebut, Ketua DPRD Riau, Djohar Firdaus, unsur Muspida Riau serta sejumlah tokoh masyarakat di Riau. (*)

Sumber :
http://riaubisnis.com/index.php/cosmo-news/cosmo-news/51-cosmo/5064-ultah-ke-42-lam-bertekad-jaga-kelestarian-budaya-melayu-di-riau

Rabu, 06 Juni 2012

Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau

MELAYU Riau kaya dengan khazanah budayanya. Antaranya yang amat menonjol adalah motif ornamen Melayunya, yang banyak dipakai untuk motif kain songket dan seni ukir. Motif atau corak dan ragi Melayu Riau ini memiliki cirri khas tersendiri walaupun di antaranya mempunyai dasar yang sama dengand aerah-daerah Melayu sekitarnya. Misalnya saja pemakaian corak dan ragi pada kain songket tenun dari Siak.

Setiap kawasan budaya di Riau memiliki corak dan ragi hias tersendiri. Termasuk corak tenunan. Masyarakat Melayu Riau memiliki corak dasar yang sejak ratusan tahun menjadi khazanah budayanya. Sebagian besar corak itu dikekalkan dalam bentuk ukiran (kayu, perunggu, emas, perak, dan suasa); sebagian lain dalam bentuk tenunan kain; dan sebagian lainnya dalam bentuk anyaman (rotan, pandan, dan akar-akaran).

Corak dasar Melayu umumnya bersumber dari alam, flora dan fauna, serta benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, atau awan. Benda-benda itulah yang direka bentuk. Ada seperti alaminya, seperti bunga kundur atau bunga hutan, dan ada juga yang diabstrakkan, seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergayut.

Ada pula corak-corak yang bersumber dari benda-benda tertentu, seperti wajik, lingkaran, kubus, dan lain-lain.

Dalam tradisi Melayu, corak-corak itu dikembangkan lagi dalam beragam variasi sehingga membentuk satu perpaduan yang serasi. Bahkan melahirkan nama-nama baru, seperti cukrebung, siku keluang, dan kalukpakis.

Dikutip dari :
Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau
oleh Abdul Malik, dkk.
Terbitan Adicita, Yogya, 2003.

Motif, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau





































Selasa, 05 Juni 2012

PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU

PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU


ADAT istiadat perkawinan Melayu di Riau berpangkal pada adat istiadat Melayu padazaman kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu Melaka, Johor, dan Riau, seperti Kerajaan Siak, Indragiri, Kerajaan Riau-Lingga, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan Rambah, Kerajaan Gunung Sahilan, Kerajaan Rokan, dan Kerajaan Kampar. Namun di daerah perbatasan dengan Negeri Minangkabau dan Tapanuli Selatan terdapat akulturasi adat dan kebiasaan di kawasan tersebut.
Begitu pula dalam adat istiadat berpakaian. Mempunyai ketentuan sesuai dengan adat-istiadat wilayah setempat. Baik itu pakaian Melayu harian,  pakaian Melayu resmi, pakaian Melayu dalam menghadiri upacara nikah kawin, pakaian Melayu dalam upacara adat, pakaian-pakaian adat Melayu dalam prosesi nikah kawin, pakaian alim ulama dan pakaian upacara keagamaan.
A.   Pakaian Harian
Pakaian ini dipakai sewaktu melaksanakan kegiatan sehari-hari, baik untuk bermain, ke ladang, ke laut, di rumah, maupun kegiatan lainnya.

a.       PakaianAnak-anak
Anak lelaki yang masih kecil dikenakan dengan pakaian baju monyet. Bila meningkat besar dikenakan baju kurung teluk belanga atau cekak musang. Kadang ada yang memakai celana setengah atau di bawah lutut dilengkapi dengan songkok atau kopiah.
Untuk anak perempuan yang belum akil baliq, mereka memakai baju kurung satu stel dengan bermotif bunga-bunga satu corak. Untuk anak perempuan yang sudah akil baliq mereka mengenakan pakaian sesuai menurut adat istiadat Melayu.

b.      PakaianDewasa (Akil Baliq)
Pakaian harian untuk anak lelaki yang sudah akil baliq adalah baju kurung cekak musang atau teluk belanga tulang belut. Sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian baju kurung labuh, baju kebaya pendek, dan baju kurung tulang belut. Stelan memakai baju kurung ini adalah kain batik, dan untuk tutup kepala berupa selendang atau kain tudung lingkup yang dipakai jika untuk keluar rumah.

c.       Pakaian Orang Tua-tua
Pakaian orang tua-tua perempuan setengah baya adalah baju kurung yang disebut baju kurung tulang belut. Baju longgar dan lapang dipakai. Selain itu ada juga baju kurung, ada kebaya labuh panjangnya hingga ke bawah lutut dan agak longgar. Kedua bentuk baju ini memakai pesak dan kekek. Lalu ada juga baju kebaya pendek yang biasa dipakai untuk ke ladang maupun untuk di rumah.


B.   Pakaian Resmi

Pakaian resmi lelaki baju kurung cekak musang yang dilengkapi dengan kopiah. Kain samping yang terbuat dari kain tenun dari Siak, Indragiri, Daik, Terengganu, atau lainnya yang dibuat dan bermotifkan ciri khas budaya Melayu. Sedangkan untuk perempuan adalah baju kurung kebaya labuh dan baju kurung teluk belanga atau juga baju kurung cekak musang. Untuk kepala rambutnya disiput jonget, lintang, lipat pandan. Pada siput dihiasi dengan bunga melur, bunga cinga atau diberi permata. Kepala ditutup dengan selendang, dibelitkan keleher. Rambut tak tampak, dada tertutup.



C.   Pakaian Melayu dalam Upacara Adat
Dalam hal pakaian adat , setiap wilayah kesatuan adat membakukan secara lengkap pakaian adat wilayah kesatuan adatnya, dengan lambing-lambang dan makna yang terkandung di dalamnya.
Pakaian adat ini dipakai dalam upacara adat yang pada masa lalu dipakai di  kerajaan-kerajaan di kawasan Bumi Melayu, seperti untuk: upacara penobatan raja, pelantikan menteri, orang besar kerajaan dan datuk-datuk, upacara menjunjung duli, penyambutan tamu-tamu agung dan tamu-tamu dihormati, upacara adat menerima anugerah dan penerimaan persembahan dari rakyat dan negeri-negeri sahabat.
Tata berpakaian secara adat dalam upacara adat dapat dibedakan sebagai berikut. Pakaian adat dalam acara nikah dan perkawinan, pakaian upacara adat, pakaian Melayu sebagai mempelai pengantin, pakaian ulama dan upacara keagamaan.

D.   Pakaian dalam Upacara Perkawinan
Bentuk pakaian Melayu pesisir, kepulauan, dan daratan Riau tidaklah  berbeda terlalu jauh. Untuk upacara perkawinan ini pakaian yang dikenakan oleh pengantin lelaki dan perempuan daerah pesisir, kepulauan dan daratan ini ditentukan oleh prosesi pernikahan. Misalnya pakaian yang dikenakan untuk akad nikah berbeda dengan pakaian yang dikenakan padamalam berinai, pada hari besar, dan seterusnya.
Umumnya untuk pakaian mempelai lelaki bentuk bajunya adalah baju cekak musang atau baju kurung teluk belanga. Kecuali daerah Lima Koto Kampar baju pengantin lelakinya berbentuk jubah.
Sedangkan untuk perempuan, pada acara malam berinai memakai kebaya labuh atau memakai baju kurung teluk belanga dari bahan tenunan, sutra, saten, atau borkat. Sedangkan kain yang dipakai tenunan dari Siak, Indragiri, Daik, atau Trengganu.

E.    PakaiandalamUpacaraKeagamaan
Dalam upacara keagamaan bagi lelaki tua dan muda mengena kaian pakaian berbentuk cekak musang atau baju kurung teluk belanga, pakai songkok, kain samping dari kain pelekat atau kain tenunan. Sistem pemakaian baju ada dua macam, yaitu baju dagang dalam dan baju dagang luar.

       Dikutip oleh Mosthamir,
Dari buku PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU
oleh Drs.H. O.K. NizamiJamildkk, terbitanLembagaAdatMelayu Riau/LPNU, 2005.