Selasa, 03 Desember 2013

Anies: Indonesia Kuat Karena Bahasa Melayu

PEKANBARU: Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan ada dua hal yang membuat Indonesia kuat dibandingkan dengan negara lain yaitu pertama, adanya bahasa bersama, Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu dan kedua, adanya kesejajaran seseorang di mata hukum.

“Bahasa Melayu yang telah digunakan secara luas di Nusantara kemudian menjadi Bahasa Indonesia,” kata Anies pada acara Silaturahim dengan Pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau), di Balai Adat Melayu Riau, Selasa (3/12).

Pada acara Silaturahim yang dihadiri Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau Dr. H. Tenas Effendy, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar, anggota MKA Drs. H. Marjohan Yusuf, Ketua DPH Syahril Abubakar, Tengku Lukman Jaafar, dan jajaran pengurus LAM Riau lainnya serta mahasiswa tersebut Anies mengatakan kondisi di Indonesia yang memiliki bahasa bersama ini berbeda dengan yang terjadi di Uni Eropa yang terdiri dari 23 bahasa.

“Yang terjadi dalam suatu pertemuan adalah adanya perterjemah dan setiap keputusan harus dibuat dengan 23 bahasa,” kata Anies.

Anies mengatakan jumlah bahasa di Indonesia cukup banyak dimana di pelosok atau pulau bahkan ada beberapa bahasa. “Beruntung ada Bahasa Indonesia yang mampu menopang persatuan, alhamdulillah sudah disepakati sebelum Indonesia merdeka,” ujarnya.

Mengenai adanya kesejajaran seseorang di mata hukum, Anies menjelaskan bahwa di Indonesia sedikitnya memiliki 330 kerajaan yang dulunya memiliki kekuasaan.

“Warisan budaya diteruskan tetapi tidak dalam entitas politik, sebagai adat dipertahankan, sementara di mata hukum sama,” kata Anies.

Anies pada kesempatan tersebut juga memaparkan bahwa secara kuantitas [jumlah penduduk], Indonesia berada pada urutan keempat dunia, sementara secara kuantitas pada urutan ke-124.

“Oleh karena itu, kualitas manusia Indonesia harus ditingkatkan mulai dari kesehatan, pendidikan, yang berdasarkan pada akhlak dan karakter. “Ini persoalan mendasar, akhlak dan karakter sehingga perlu diperkuat,” ujarnya.

Menurut Anies, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam (SDA) semata karena banyak bangsa yang hebat bahkan bukan karena kekuatan alam.

Dia memberi contoh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara, seperti Arab Saudi, Libya, Iran, Irak, Qatar, Brunei dan lain-lain, jika ditotal GDP (Gross Domestic Product)-nya hanya sekian persen saja dari GDP Jepang yang tidak mempunyai SDA.

“Kita lebih tahu kekayaan alam dibanding manusia, kita tahu jumlah SDA tetapi kita tidak tahu bahwa tanpa manusianya kita sulit maju,” ujarnya.

Menurut Anies, melindungi, mensejahterakan, dan mencerdaskan perlu dilakukan. Untuk itu, Anies mengaku tergerak untuk banyak bergerak di bidang pendidikan.

Anehnya, pendidikan yang sedemikian penting hanya dianggap urusan kementerian padahal urusan kepemimpinan. Kaisar Jepang ketika Jepang dibom atom oleh sekutu bertanya berapa orang guru yang masih hidup.

“Kami diundang pada konvensi capres Partai Demokrat, ini sebuah undangan untuk ikut mewarnai Indonesia, saya ingin ikut turun tangan, bukan turun angan,” kata Anies.

Anies juga menyoroti masalah penegakan hukum di Indonesia. Menurut Anies, jika Indonesia dibagi tiga area, yaitu area ekonomi, politik, dan rule of law. Maka permasalahan adalah pada rule of law, sebagai belantara yang mendekati bangkrut.

“Hal ini tidak bisa diselesaikan oleh satu orang tetapi dengan gerakan kolektif, kolosal, orang-orang baik,” tegas Anies.

Riau ladang perburuan

Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar pada kesempatan tersebut mengatakan selain menyumbangkan Bahasa Melayu yang kemudian ditetapkan sebagai Bahasa Indonesia, Riau juga menyumbangkan minyak bumi dan gas (migas) hampir 70% untuk negara ini.

Al Azhar juga memaparkan mengenai aset ekonomi Riau yang sebagian besar dikuasai oleh segelintir orang sementara yang dikuasai sekitar 6 juta rakyat Riau hanya 30% saja.

Menurut Al Azhar, Riau rawan terhadap konflik SDA, hal ini karena mereka yang datang ke Riau melihat rakyat Riau sebagai ‘semut-semut’ saja.

Sementara dalam wacana Indonesia, sepertinya Riau hanya dilihat dari minyak dan SDA yang dihasilkan. Sementara rakyatnya tidak dilihat. “Selama ini, Riau hanya menjadi ladang perburuan saja,” tegas Al Azhar.

Al Azhar yang juga dikenal sebagai budayawan Riau ini menyebutkan tiga karakter orang Melayu yaitu merajuk, mengaruk, dan mengamuk.

“Jika sudah pada tingkatan mengamuk, maka akal sehat tidak ada lagi. Kami berusaha keras jangan sampai amuk karena hasilnya menang jadi abu, kalah jadi arang,” kata Al Azhar.

Kekalkan jati diri

Ketua Umum MKA LAM Riau Dr. H. Tenas Effendy mengingatkan pentingnya bagi orang Melayu mengekalkan jati diri Melayu yang Islami.
Menurut Tenas, undang undang yang dibuat, akan dijalankan oleh manusia sendiri. Dalam hal ini jika orang yang menjalankan undang undang itu tidak betul, maka apapun menjadi tidak betul.

“Krisis politik, krisis ekonomi yang terjadi tidak separah krisis akhlak,” ujarnya.

Tenas mengatakan orang-orang tua Melayu, selalu mendoakan agar anaknya menjadi orang, dalam pengertian anaknya bisa hidup sejahtera lahiriah dan batiniah.

“Jadi, sedari kecil sudah dipersiapkan dengan mengekalkan jati diri kemelayuan sehingga bisa menjadi pemimpin yang amanah. Mencontoh pada yang senonoh, berguru pada yang sejudu,” katanya. (r)